Selasa, Desember 16, 2008
WARNA PERSAHABATAN
Di suatu masa Warna-Warna dunia mulai bertengkar. Semua menganggap dirinyalah
yang terbaik, yang paling penting, yang paling bermanfaat, yang paling disukai.
HIJAU berkata, "Jelas Akulah yang terpenting. Aku adalah pertanda kehidupan dan
harapan. Aku dipilih untuk mewarnai rerumputan, pepohonan dan dedaunan. Tanpa Aku,
semua hewan akan mati. Lihatlah ke pedesaan, Aku adalah warna mayoritas..."
BIRU menginterupsi, "Kamu hanya berpikir tentang bumi, pertimbangkanlah langit dan
samudra luas. Airlah yang menjadi dasar kehidupan dan awan mengambil kekuatan dari
kedalaman lautan. Langit memberikan ruang dan kedamaian dan ketenangan. Tanpa
kedamaian, Kamu semua tidak akan menjadi apa-apa."
KUNING cekikikan, "Kalian semua serius amat sih? Aku membawa tawa, kesenangan
dan kehangatan bagi dunia. Matahari berwarna kuning, dan bintang-bintang berwarna
kuning. Setiap kali Kau melihat bunga matahari, seluruh dunia mulai tersenyum. Tanpa
Aku, dunia tidak ada kesenangan."
JINGGA menyusul dengan meniupkan trompetnya, "Aku adalah warna kesehatan dan
kekuatan. Aku jarang, tetapi Aku berharga karena Aku mengisi kebutuhan kehidupan
manusia. Aku membawa vitamin-vitamin terpenting. Pikirkanlah wortel, labu, jeruk,
mangga dan pepaya. Aku tidak ada dimana-mana setiap saat, tetapi Aku mengisi langit
saat fajar atau saat matahari terbenam. Keindahanku begitu menakjubkan hingga tak
seorangpun dari kalian akan terbayang di pikiran orang."
MERAH tidak bisa diam lebih lama dan berteriak, "Aku adalah Pemimpin kalian. Aku
adalah darah – Darah Kehidupan! Aku adalah warna bahaya dan keberanian. Aku berani
untuk bertempur demi suatu kuasa. Aku membawa api ke dalam darah. Tanpa Aku, bumi
akan kosong laksana bulan. Aku adalah warna hasrat dan cinta, mawar merah,
poinsettia (semacam tumbuh-tumbuhan yang daunnya berwarna merah) dan bunga
poppy."
UNGU bangkit dan berdiri setinggi-tingginya Ia mampu, Ia memang tinggi dan berbicara
dengan keangkuhan. "Aku adalah warna kerajaan dan kekuasaan. Raja, Pemimpin dan
para Uskup memilih Aku sebagai pertanda otoritas dan kebijaksanaan. Tidak
seorangpun menentangku. Mereka mendengarkan dan menuruti kehendakku."
Akhirnya NILA berbicara lebih pelan dari yang lainnya, namun dengan kekuatan niat
yang sama, "Pikirkanlah tentang Aku. Aku warna diam. Kalian jarang memperhatikan
daku, namun tanpaku kalian semua menjadi dangkal. Aku merepresentasikan pemikiran
dan refleksi, matahari terbenam dan kedalaman laut. Kalian membutuhkan Aku untuk
keseimbangan dan kontras, untuk doa dan ketentraman batin."
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar